Pemilihan Portofolio

Maret 22, 2011 2 komentar

Di dalam membentuk suatu portofolio, akan timbul suatu masalah. Permasalahannya terdapat banyak sekali kemungkinan portofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi aktiva berisiko yang tersedia di pasar. Kombinasi ini dapat mencapai jumlah yang tidak terbatas. Jika terdapat kemungkinan portofolio yang jumlahnya tidak terbatas, maka akan timbul pertanyaan potofolio mana yang akan dipilih oleh investor. Jika investor adalah rasional, maka mereka akan memilih portofolio yang optimal.

Portofolio optimal dapat ditentukan dengan menggunakan model Markowitz atau dengan metode indeks tunggal. Dan yang pertama kali dibutuhkan adalah menentukan portofolio yang efisien.

Portofolio optimal akan berbeda-beda untuk masing-masing investor. Investor yang lebih menyukai risiko akan memilih portofolio dengan return yang tinggi dengan membayar risiko yang juga lebih tinggi dibandingkan dengan investor yang kurang menyukai risiko. Jika aktiva tidak berisiko dipertimbangkan, aktiva ini dapat mengubah portofolio optimal yang mungkin sudah dipilih oleh investor.

Menentukan Portofolio Efisien

Portofolio yang efisien (efficient portofolio) adalah portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan tingkat risiko yang sudah pasti atau portofolio yang memberikan risiko terkecil Baca selanjutnya…

Iklan
Kategori:Uncategorized

Uji Asumsi Klasik – Autokorelasi

Desember 18, 2010 1 komentar

Definisi

Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data urutan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional).

Konsekuensi

1.      Penduga-penduga koefisien regresi yang diperoleh tetap merupakan penduga-penduga yang tidak bias.

2.      Varian variabel gangguan menjadi tidak efisien jika dibandingkan dengan tidak adanya autokorelasi. Varian variabel gangguan mungkin sekali akan dinilai terlalu rendah, sehingga akibatnya uji statistik yang digunakan terhadap koefisien regresi penduga berkurang pula kemaknaannya, dan mungkin menjadi tidak berarti sama sekali.

Cara mendeteksi autokorelasi

1.      Metode Grafik

2.      Percobaan d dari Durbin-Watson (DW)

Mekanisme tes Durbin-Watson:

a.       Menentukan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatifnya (Ha) Baca selanjutnya…

Pengungkapan CSR berdasarkan Indikator GRI

November 6, 2010 12 komentar

GRI (Global Reporting Intiative) merupakan sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus-menerus melakukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia.

Tiga fokus pengungkapan GRI, antara lain:

1. Indikator Kinerja Ekonomi (economic performance indicator), terdiri dari 9 item

2. Indikator Kinerja Lingkungan (environment performance indicator), 30 item

3. Indikator Kinerja Sosial (social performance indicator) 40 item, terdiri dari:

  • Tenaga Kerja (labor practices and decent work)
  • Hak Asasi Manusia (human rights performance )
  • Sosial (Society)
  • Tanggung jawab Produk (product responsibility performance)

Indikator Kinerja Ekonomi

Aspek: Kinerja Ekonomi

EC1 Perolehan dan distribusi nilai ekonomi langsung, meliputi pendapatan, biaya operasi, imbal jasa karyawan, donasi, dan investasi komunitas lainnya, laba ditahan, dan pembayaran kepada penyandang dana serta pemerintah.

EC2 Implikasi finansial dan risiko lainnya akibat perubahan iklim serta peluangnya bagi aktivitas organisasi.

EC3 Jaminan kewajiban organisasi terhadap program imbalan pasti.

EC4 Bantuan finansial yang signifikan dari pemerintah.

Aspek : Kehadiran Pasar

EC5 Rentang rasio standar upah terendah dibandingkan dengan upah minimum setempat pada lokasi operasi yang signifikan.

EC6 Kebijakan, praktek, dan proporsi pengeluaran untuk pemasok lokal pada lokasi operasi yang signifikan.

EC7 Prosedur penerimaan pegawai lokal dan proporsi manajemen senior lokal yang dipekerjakan pada lokasi operasi yang signifikan.

Aspek: Dampak Ekonomi Tidak Langsung

EC8 Pembangunan dan dampak dari investasi infrastruktur serta jasa yang diberikan untuk kepentingan publik secara komersial, natura, atau pro bono.

EC9 Pemahaman dan penjelasan dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan, termasuk seberapa luas dampaknya.

Indikator Kinerja Lingkungan

Aspek: Material

EN1 Penggunaan Bahan; diperinci berdasarkan berat atau volume

EN2 Persentase Penggunaan Bahan Daur Ulang

Aspek: Energi

EN3 Penggunaan Energi Langsung dari Sumberdaya Energi Primer

EN4 Pemakaian Energi Tidak Langsung berdasarkan Sumber Primer

EN5 Penghematan Energi melalui Konservasi dan Peningkatan Efisiensi

EN6 Inisiatif untuk mendapatkan produk dan jasa berbasis energi efisien atau energi yang dapat diperbarui, serta pengurangan persyaratan kebutuhan energi sebagai akibat dari inisiatif tersebut.

EN7 Inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi tidak langsung dan pengurangan yang dicapai Baca selanjutnya…

Kategori:ekonomi Tag:, ,

Desain Penelitian

Oktober 21, 2010 Tinggalkan komentar

Aspek-aspek yang terkait dengan tujuan dan karakteristik masalah penelitian, yaitu:

  1. Tujuan studi
  2. Tipe hubungan antar variabel
  3. Lingkungan (setting) studi
  4. Unit analisis
  5. Horison waktu
  6. Pengukuran construct.

A. Tujuan Studi

Hasil penelitian secara lebih spesifik dapat dimaksudkan sebagai:

1. Studi eksplorasi/ studi penjajakan, dilakukan jika peneliti memiliki keterbatasan informasi mengenai masalah penelitian tertentu, karena penelitian sebelumnya yang meneliti masalah tersebut relatif belum banyak dilakukan oleh peneliti yang lain.

2. Studi deskriptif, merupakan penelitian terhadap fenomena/ populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subjek yang berupa individu, organisasional, industri, atau perspektif yang lain. Baca selanjutnya…

Hidup itu: Kejutan!

Agustus 17, 2010 Tinggalkan komentar

Di Rabu pagi yang mendung, panas perlahan tampak dan kadang hilang tanpa irama yang beraturan, tiba-tiba langsung masuk reff tanpa intro, menghajar setiap umat manusia karena panasnya.

Saya yang kala itu sedang bergelora pergi ke kampus, terhenti sudah. Saya membolos untuk kedua kalinya. Tapi aksi bolos kali ini didasari oleh kepentingan yang mendesak, yaitu menyerviskan motor shogun saya yang sudah butut.

Entah kenapa akhir-akhir ini dia begitu manja. Kemudian saya bawa Shogun merk Suzuki itu ke bengkel resmi Yamaha dekat rumah. Pikiran saya pun mulai menampakkan kepicikannya. Saya mengajak serta paman karena beliau kenal dengan salah satu orang di bengkel. Dan alih-alih kemungkinan besar mendapat potongan harga juga berpeluang besar.

Sesampai disana, saya disambut baik oleh si mbak penjaga bengkel. Lalu saya mengatakan keluhan yang dialami motor saya kepadanya. Damn, motor saya benar-benar sakit parah! Oli, cairan absurd yang harus diganti tiga minggu sekali itu terlambat lima bulan.

Dan saya mulai mengalami titik kebosanan season kedua. Saya mulai memainkan lagu Keane di hape, sebuah band papan kelas atas, band favorit saya dari dulu. Lirik-lirik lagu yang menyentuh hati, ditambah alunan musik pianonya Tim Rice-Oxley plus suara vokalisnya Thomas Chaplin yang eksentrik n coooll abiz serta pemegang drum Richard Hughes bikin suasana hati jadi berubah.

Baru sampai setengah perjalannan mendengarkan lagu Bedshaped, mbak penjaga bengkel menggetarkan kursi sebelah sembari memberi segelas Aqua untuk saya. Awalnya saya terusik dengan keberadaan mbak yang menurut saya lumayan cantik. Saya pura-pura jaim dan menghiraukannya. Dan apa yang saya perkirakan terjadi. Sebuah percakapan pun dimulai.

Si mbak pertama kali yang bertanya, “Mbak, rumahnya mana?”

“Eh, deket dari sini kok mbak, dekatnya toko baju Anugrah.”

saya mulai menghentikan hentakan lagu Keane di hape saya. Percakapan basa-basi itu tidak berlangsung lama dan ada kalanya diam sejenak. Dalam momen lubang cacing itu, saya berpikir mencari bahan pembicarraan untuk si mbak. Saya ganti memulai percakapan.

” Mbak kok bisa kerja disini, emang dulu ambil jurusan apa?” Hah, topik yang tidak nyangkut apapun dengan situasi saat itu.

Tapi saya kaget ketika dia mengucapkan, ”Oh, aku dulu D3 UNS (Universitas Sebelas Maret) jurusan pertanian. Jauh banget ya.. ” (Maksud jauh disini adalah spesialisasinya)

“Iya mbak, sekarang cari kerjaan emang sulit.” Saya berlagak sok tahu.

”Lha aslinya orang mana?”

” Aku asli Boyolali dan ngekost disini,” balasnya

Lalu saya mulai nyaman dengan si mbak. Beragam percakapan itu telah mengarahkan bagaimana keadaan sebenarnya si mbak. Kadang saya tidak mengerti saat dia bercerita tentang permotoran. Saya hanya bisa menyimak dan berusaha memahaminya.

Setelah satu jam berlalu tanpa kebosanan berarti, motor saya telah sembuh dari penyakit akutnya. Lega rasanya!

Setelah pulang yang saya dapat adalah pelajaran tentang hidup. Kita tak pernah tahu rencana Allah SWT. Intinya, Allah mempunyai tujuan lain untuk kita dan itulah yang terbaik.

Yes, pembolosan kali ini ada trade off nya. Tak salah saya membolos kuliah. Hahaha… Dan buat si mbak tanpa nama, you inspiring me on those day.

Kategori:umum, Uncategorized

Narrative Text

Agustus 2, 2010 2 komentar
  • Social Function

To amuse, entertain and to deal with actual or vicarious experience in different ways. Narrative deal with problematic events which lead to a crisis or turning point of some kind, which in turn finds a resolution.

  • Generic Structure
  1. Orientation      : sets the scene and introduces the participants
  2. Evaluation       : a stepping back to evaluate the plight
  3. Complication   : a crisis arises
  4. Resolution       : the crisis is resolved, for better or for worse
  5. Reorientation  : optional.
  • Significant Lexicogrammatical Features
  1. Use of past tense.
  2. Focus on specific and usually individualized Participants
  3. Use of Material Processes (and in this text, Behavioral and Verbal Processes)
  4. Use of Relational Processes and Mental Processes
  5. Use of Temporal Conjunctions and temporal Circumstances

Nah, ini beberapa contoh narrative text.  Mangga, dibaca-baca… 🙂

Baca selanjutnya…

Hubungan Perbedaan Laba Akuntansi dan Laba Pajak dengan Perilaku Manajemen Laba dan Persistensi Laba (SNA 12)

Agustus 2, 2010 9 komentar

SANTI ARYN WIRYANDARI
YULIANTI
UNIVERSITAS INDONESIA

ABSTRACT

The focus of this study is to see the relationship between book-tax income differences and the quality of earnings. Using Earnings Distribution model (Burghstahler & Dichev, 1997), we find that companies in Indonesia are practicing earnings management to avoid reporting losses. This earnings management activity further tested using the Deferred Tax Expense as a mean of prediction. We find that Deferred Tax Expense has no significant relationship with the earnings management activity, therefore can’t be used to predict earnings management activity. We also examine the other earnings quality measurement, namely earnings persistence. Using book-tax income, we tested whether positive book-tax differences can be used to measure earnings persistence. We find that companies with large positive book-tax differences have significantly less persistent earnings, accruals and cash flows. Therefore this research finds that book-tax income difference has the ability to detect earnings quality, which is the persistence of future earnings.

Key words: Book-tax difference, deferred tax expense, earnings management, earnings persistance Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: